Saturday, December 31, 2011

INDAHNYA BERBAGI RASA


Beberapa saat yang lalu di sekitaran kawasan Nagoya aku sedang menikmati teh tarik special yang konon katanya paling uenak sedunia dan beberapa potong pisang goreng. Biar dikatakan sibuk, aku pura-pura ngotak-atik ponsel ku yang emang dasarnya sudah butut. Mo calling temen-temen tapi pulsa dah mepet, belum dapat transferan dari sephia yang lagi sibuk syuting sinetron terbarunya. Jadi terpaksa deh, bisanya sms-an doang mengabarkan ini dan itu sambil berkhayal seandainya aku jadi orang yang beken gimana ya rasanya…..



Ketika alam khayalan sudah berada dilangit ketujuh, tiba-tiba aku dikagetkan oleh teguran seorang anak kecil yang berusia sekitar 10 tahunan sambil menenteng kantong plastik berwarna hitam berisi sebuah roti yang sudah sisa. “om…., pisangnya masih mau dimakan nggak, kalau sudah nggak dimakan lagi bisa saya minta?” tegur si bocah tadi. Sejenak aku terperanjat sambil mengamati penampilan si bocah yang sudah agak dekil ini, sambil mencari-cari jawaban siapa sebenarnya dia, kenapa anak sekecil ini sudah jadi peminta-minta dan lainnya.

“Silahkan…, kebetulan om sudah kenyang” jawabku spontan. “Terimakasih om…., mudah-mudahan Allah membalas kebaikan om” kata anak itu dengan girangnya. Aku terhenyak, gara-gara satu setengah potong pisang goreng si anak mendoakan dengan sedemian ikhlasnya. “Ya sudah, kalau belum makan om pesankan makan ya, kita makan bersama sekalian bincang-bincang” kataku yang sok ingin jadi orang baik.

“Nggak usah om….., cukup pisang ini saja saya sudah terimakasih” sahutnya. “Kenapa, nggak mau? Om ikhlas kok seandainya bisa membantu minimal membelikan makan untuk kamu. Pokoknya mau ya?” bujuk ku sedikit memaksa agar bisa mendapat sedikit pahala di hari itu. “Baiklah kalau om agak memaksa, tapi kalau boleh di bungkus aja ya om makanannya?” pintanya. “Emang kenapa kalau makan disini, malu ya sama orang-orang itu?” tanyaku sambil melirik kekanan dan kekiri yang memberitahukan ada beberapa orang ditempat tersebut.

“Bukan om…, kenapa saya minta untuk dibungkus karena kalau saya makan disini cukup saya saja yang kenyang, tapi kalau saya makan dirumah ada 2 orang teman saya yang bisa menikmatinya. Dia bernama Andi dan Parman. Saat ini Andi sedang sakit jadi Parman menemaninya di rumah. Biasanya sih kami bertiga selalu bersama-sama mencari makan. Hanya itu keluarga saya om, Ibu saya sudah meninggal saat saya berusia 5 tahun, sedang ayah saya siapa saya nggak tahu” terangnya.

Jawaban si anak tersebut benar-benar membuat saya terharu. Betapa anak seusia dia mempunyai tanggung jawab yang sedemikian besar. Betapa anak seusia dia sudah mempunyai empati dan rasa berbagi dengan temannya……!!!

Ya Tuhan..., saya tahu, si anak tadi bisa saja makan sendiri untuk mengatasi rasa laparnya. Mungkin juga dia bisa menyimpan sendiri untuk persediaan makan dia sampai malam. Tapi itu tidak dia lakukan. Dia malah akan membagi kepada teman-temannya untuk sama-sama menikmati makanan pemberian saya. Bisa kita bayangkan, seorang anak kecil yang untuk makan malam saja belum tentu dia dapat, masih mau BERBAGI RASA dengan temannya…...

Subhanallah.., berbagi rasa ternyata bukan milik kaum yang berada saja. Saling memberi bukanlah dominasi kaum berduit saja. Justru mereka jauh lebih bernilai dihadapanNya. Karena mereka memberikan, membagikan sesuatu yang justru mereka butuhkan dan mungkin saja paling berarti bagi mereka saat itu.

Orang mampu, kaya belum tentu mau memberikan yang terbaik dalam hidupnya untuk orang lain. Kalau memberi baju, umumnya baju bekas yang diberikan, daripada ga di pake, daripada dibuang. Nilainya sungguh jauh berbeda dengan makanan sederhana yang dibagikan oleh anak tadi, bisa jadi baju bekas yang kita berikan lebih mahal.

Seandainya saja kita mau berfikir dan bertindak sama dengan yang dilakukan si anak kecil tadi, mungkin tidak akan terlalu jauh kesenjangan di Negara ini…..
Mudah-mudahan……..

Salam,
Eko Sumarsono bin Sulis Raharjo bin Darno Semito Sampun Gadah Putro Sampun Gadah Wanito

Baca Selanjutnya.....

K E J U J U R A N


Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah anekdot yang mudah-mudahan bisa menjadikan pencerahan dan penyadaran bagi kita bersama….

Alkisah disuatu perkampungan ada seorang penebang kayu yang sangat miskin namun masih menjunjung nilai kejujuran dalam hidupnya, dia bernama Paimo. Apapun yang dilakukan, paimo senantiasa berusaha dan berusaha untuk jujur.

Pada suatu hari, ketika Paimo sedang menebang kayu di hutan, tiba-tiba kapak yang ia pegang terjatuh disungai. Ia sangat bingung sekali, sebab kapak itulah harta satu-satunya yang sangat berharga bagi dia saat itu. Tanpa kapak tersebut ia tidak bisa bekerja menebang kayu dihutan guna menafkahi keluarganya.



Disaat sedang bingung, datanglah Jin yang menawarkan pertolongan. Setelah diceritakan masalahnya, kemudian jin tersebut menghilang dan dalam sekejap muncul kembali sambil membawa 2 kapak, yang satu kapak emas dan yang satu kapak perak. “ini kapakmu?” Tanya Jin kepada Paimo sambil menunjukkan kapak emasnya. “Bukan” jawab Paimo yang jujur. “berarti yang ini kapakmu?” Tanya Jin lagi sambil menunjukkan kapak peraknya. “Juga bukan” jawab Paimo lagi. Lalu Jin tiba-tiba menghilang dan muncul kembali membawa kapak besi milik Paimo yang terjatuh di sungai. “Apakah ini kapakmu?” Tanya Jin berikutnya. “Benar itu kapak saya, kapak saya terbuat dari besi, bukan emas atau perak”. Jin sangat senang atas jawaban Paimo yang jujur, maka ketiga kapak tersebut diberikan kepada Paimo guna menghargai kejujuran Paimo.

Pada lain hari, Paimo sedang bekerja dihutan dan dibantu oleh istri tercintanya Markonah. Saat Markonah mengumpulkan kayu-kayu yang telah dipotong Paimo, tiba-tiba dia terjatuh ke sungai dimana kapak Paimo terjatuh dulu. Paimo yang dasarnya tidak bisa berenang, hanya bisa memanggil-manggil Markonah sampai suaranya habis. Beberapa jam Markonah tidak ditemukan membuat paimo sedih setengah mati.
Ditengah keputusasaan Paimo, datanglah Jin yang dulu pernah membantunya. Kemudian Paimo menceritakan tentang istrinya yang terjatuh di sungai. “baiklah aku akan membantumu” kata Jin. Kemudian dia menghilang dan beberapa detik muncul kembali sambil membawa Luna Maya. “ini istrimu?” Tanya Jin. “Benar” jawab Paimo. Jin sangat marah atas jawaban Paimo yang tidak jujur dan sebelum menghilang dia berkata bahwa tidak akan pernah membantu Paimo karena tidak jujur lagi.

Selidik punya selidik, ternyata Paimo takut kalau Jin sampai membawa tiga kali wanita-wanita cantik, dan karena kejujurannya nanti ketiganya akan dihadiahkan, padahal dia merasa miskin dan tidak mampu untuk menghidupi 3 orang istri, hehehehehe

Kata kejujuran……, memang mudah untuk diucapkan maupun ditulis, namun ketika kita dihadapkan pada suatu pilihan ternyata kejujuran bukan suatu yang mudah untuk dilaksanakan terlebih apabila sesuatu yang kita hadapi menyangkut hal-hal yang bersifat materi. Kejujuran sendiri adalah sesuatu yang bernilai abstrak tetapi dampak yang muncul bisa bervariasi tergantung siapa pelaku kejujuran itu dan siapa penerima nilai kejujuran itu.

Apalagi diera sekarang ini, kejujuran ibarat emas yang sangat mahal harganya. Di dukung teknologi yang semakin canggih, baik via sms, telpon, internet atau lainnya justru menjadikan kita semakin gampang untuk berbohong. Padahal kebohongan meski mulai dari hal kecil akan menjadikan kebiasaan ketika sering dilakukan, yang akhirnya tidak merasa menjadi beban atau berdosa ketika melakukannya.

Mungkin akhir-akhir ini kita menyaksikan, begitu banyak orang yang pintar akalnya, terhormat, mempunyai kedudukan atau bahkan orang yang biasa-biasa saja namun sering tidak jujur dalam bersikap. Banyak yang kaya hartanya tetapi miskin jiwanya. Tidak sedikit orang yang terpandang dan mempunyai kedudukan tetapi hilang kejujurannya, dan makin bertam-bah pengkhianatannya

Banyak orang yang sengaja melenyapkan kebaikannya dan berlomba menambah keburukannya, sudah langka menghargai orang lain karena kemuliaan akhlaknya, tetapi makin bertambah banyak orang yang menghargai manusia karena tinggi pangkat, kedudukan dan banyaknya kekayaan yang dimilikinya. Maka tidak aneh kalau banyak manusia yang berlomba menumpuk harta dan mengejar kedudukan walaupun dengan jalan yang tidak baik. Dan yang lebih parah lagi, ditengah apatisme masyarakat mulai dimunculkannya slogan-slogan yang justru menyesatkan. Misal: siapa yang jujur pasti hancur, siapa yang jujur pasti di kubur dan lainnya.

Itulah sedikit realitas yang terjadi dinegeri antah berantah ini, begitu mudahnya kita membiasakan sesuatu yang memang tidak baik. Saya jadi teringat dengan apa yang disampaikan oleh seorang guru saat di sekolah dasar dulu, “biasakan kebenaran tapi jangan benarkan kebiasaan”. Membiasakan kebenaran berarti senantiasa membawa nilai-nilai Illahiyah dan membenarkan kebiasaan akan tergantung apakan positif atau negatif.

Kejujuran adalah sebuah sifat yang akan menghasilkan sebuah sikap. Kejujuran biar bagaimanapun akan menjadi kunci dari kesuksesan menghadapi dunia. Walau mungkin kini kejujuran bisa dikatakan lebih sering terkubur bersama kebohongan, tetapi pada saatnya kejujuran akan muncul dan menjadi pemenang. Nilai-nilai kejujuran merupakan nilai yang muncul dari rasa keimanan akan adanya unsur tertinggi yang mengatur alam semesta, dan nilai tersebut akan diakui oleh sekitarnya apabila pelaku kejujuran melaksanakan sesuatu selaras antara ucapan dan tindakan. Jadi sudahkah kita membiasakan jujur…….????

Salam,
Eko Sms

Baca Selanjutnya.....

Wednesday, October 5, 2011

DOWNLOAD MUSIK PILIHAN

Bagi sahabat blogger yang membutuhkan musik-musik tambahan, silahkan download dibawah

I. SHOLAWAT:

1. Wafiq Azizah - ilir ilir klik disini
2. Wafiq Azizah - istigfar klik disini

Baca Selanjutnya.....

Monday, June 13, 2011

KEKUATAN PIKIRAN



Beberapa saat yang lalu di suatu malam, ketika saya sedang menikmati teh tarik favorit saya berikut makanan ringan di Pujasera Sekupang Trade Center (STC), saya dikejutkan oleh tawa yang tidak seberapa jauh dari tempat duduk saya. Ketika saya menoleh ternyata ada seorang laki-laki yang hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada sedang tertawa menikmati makanan sisa diujung pujasera tersebut. Ketika saya bertanya pada pelayan pujasera, dia menjelaskan bahwa dia tidak waras alias sinting sejak beberapa tahun ini sepulang dari Malaysia.

Yang menjadi perhatian saya saat itu bukanlah bagaimana dia menjadi gila, namun lebih dari itu adalah bagaimana dia memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa. Beberapa keterangan yang saya dapat menyebutkan bahwa dia selalu berpakaian minim seperti itu, tidur disembarang tempat, makan makanan yang sisa yang tentu tidak higienis, terkadang minum minuman mentah namun hampir dipastikan dia tidak pernah sakit.



Saya berusaha mencari dan terus mencari jawaban tersebut. Kesimpulan awal yang saya dapat berdasar beberapa referensi yang saya temukan, bahwa semua prilaku manusia dipengaruhi oleh kerja otak, baik otak sadar (conscious) maupun otak bawah sadar (sub-conscious). Dalam hal ini yang terjadi pada si orang gila yang mempunyai kekebalan tubuh tersebut dikarenakan pikiran nya dalam kondisi Delta ( 0 fokus), sehingga tidak merespon positif maupun negatif atas poses yang terjadi.

Pikiran….., ternyata memunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Apa yang kita pikirkan baik secara sadar maupun tidak sadar akan mempengaruhi hasilnya. Saya jadi teringat ketika masih di Solo beberapa tahun yang lalu, ketika kakek saya sakit kepala dan beliau minta dibelikan Paramex (maaf bukan promosi) tapi malah saya belikan merek lain yang harga nya jauh lebih mahal dan kualitasnya lebih baik. Hasilnya obat tersebut tidak memberikan reaksi apa-apa, tapi begitu saya belikan dengan merek yang diminta beberapa jam saja sudah sembuh. Ternyata kakek saya sudah meyakini dan mensugesti dirinya bahwa apabila minum obat tersebut maka akan sembuh.

Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar dan apa yang kita rasakan akan memberikan instruksi baik secara langsung maupun tidak kepada otak kita. Dulu waktu kecil kita terbiasa minum air mentah dan tidak membuat sakit, tapi kalau sekarang kita minum air mentah apa yang terjadi? Hampir dipastikan akan sakit. Apa karena sekarang sudah terkontaminasi dengan zat-zat kimiawi? Mungkin saja. Tapi menurut saya lebih pada kerja otak. Otak kita sudah dijejali dari beberapa referensi pengetahuan bahwa kalau tidak higienis akan menyebabkan penyakit dan lainnya, dan secara langsung maupun tidak kita sudah mengamininya. Coba kita bandingkan, ketika seseorang dihypnotis dan otak bawah sadar nya disugesti bahwa minum air raksa tidak berbahaya, apa yang terjadi ketika orang tersebut meminumnya? Yang pasti air raksa tersebut tidak memberikan reaksi apa-apa, sebab otak bawah sadar sudah memerintahan kepada tubuh untuk menetralisir apapun yang masuk.

Sekali lagi, itulah kekuatan pikiran. Dengan memberikan sugesti pada otak, sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin atau sebaliknya sesuatu yang mungkin bisa menjadi tidak mungkin. Ketika kita berfikir akan sakit pasti sakit, ketika kita berfikir tidak berhasil pasti tidak berhasil, ketika kita berfikir tidak bahagia pasti tidak bahagia dan lainnya. Begitu sebaliknya, ketika kita berfikir selalu sehat pasti sehat, ketika kita berfikir berhasil pasti berhasil, ketika kita berfikir bahagia pasti bahagia...
Akhir tulisan ini saya ingin mengajak sahabat semua, mari kita biasakan berfikir yang positif karena outputnya pasti positif juga…………!!!



Salam,
Eko Sumarsono bin Sulis Rahardjo bin Darno Semito Sampun Gadah Putro Sampun Gadah Wanito Cacahe Telung Puluh Limo

Baca Selanjutnya.....

PERSPEKTIF KEBENARAN


Alkisah, Paimo si penebang pohon sudah mulai sepi job karena hutan yang selama ini menjadi wilayah kerjanya sudah mulai gundul. Apalagi akibat global warning, kerajaan sudah mengeluarkan aturan tentang larangan menebang pohon jadi makin memperkapah ekomoninya. Ingin melamar kerja jadi direktur tapi nggak punya ijazah, ingin jadi anggota legislatif tapi tak punya partai politik. Pokoknya lengkaplah penderitaan Paimo saat itu.

Atas kesepakatan dengan Markonah istri tercintanya (yang ternyata tidak meninggal saat tercebur disungai dan ditemukan dalam keadaan pingsan = cerita detailnya lain waktu aja ya), maka diputuskanlah untuk melamar pekerjaan pada juragan Sumitro untuk menjadi tukang kebun. Setelah mengikuti tes tertulis, test psikology dan interview akhirnya Paimo diterima kerja oleh juragan Sumitro. Pekerjaan utama Paimo adalah menjaga kebersihan sekitar rumah dan yang kedua memberi makan “Jacky”, monyet kesayangan Juragan Sumitro. Urusan gaji terbilang lumayan karena sang Juragan terbilang orang yang royal dan dermawan.



Pada suatu hari setelah pekerjaan utamanya selesai, Paimo bersiap-siap untuk pekerjaan kedua yakni memberi makan si Jacky. Kesempatan ini sekaligus akan dimanfaatkan Paimo untuk menguji Jacky yang kata orang-orang termasuk monyet yang pintar dan mempunyai banyak kelebihan. “Kalau benar pilihannya maka saya akan mengakui kepintaran Jacky, tapi kalau salah berarti Jacky tidak pintar-pintar amat” kata Paimo dalam hati. Maka disusunlah rencana Paimo, yakni akan memberi makanan dengan beberapa jenis pilihan, yakni Pisang, Kacang Tanah, Semangka dan Anggur. “Apabila Jacky memilih pisang berarti jawaban paling benar dan dia termasuk monyet yang pintar” kata Paimo lagi, karena selama ini dia melihat bahwa makanan monyet adalah pisang.

Setelah semua dirasa cukup oleh Paimo, akhirnya test mulai dijalankan. Si Monyet agak kebingungan juga, kerena biasanya selama ini hanya disediakan makanan pisang atau kacang tanah tapi kok sekarang bertambah. “Apa juragan lagi dapat rezeki nomplok?” batin si Jacky. Karena si Jacky dulu pernah sekolah di sekolah monyet dan dia tahu tentang rasa dan harga makanan, akhirnya dia memilih anggur. “mumpung ada makanan mahal dan belum tentu dapat sebulan lagi, maka saya akan menikmati anggur saja, karena yang lainnya sudah sering” batin dia. Akhirnya dengan lahap dia makan anggur tanpa menghiraukan makanan yang lainnya. “Berarti si Jacky termasuk monyet yang bodoh karena dia memilih anggur, harusnya dia memilih pisang” kata Paimo sambil memakan pisang yang tidak dimakan Jacky. Tiba-tiba si Jacky berteriak “sekarang yang monyet siapa om…..???” hehehehehe

Itulah perspektif kebenaran….. Sering kali kita meyakini bahwa apa yang kita lakukan adalah benar, tapi belum tentu benar dimata yang lain. Karena faktor pengetahuan kita yang masih minim, karena faktor keadaan yang tidak memungkinkan atau karena faktor-faktor lain. Ada orang yang beranggapan bahwa menjadi “pengantin” bunuh diri yang melukai dan membunuh sesama adalah benar dan jihad, bisa jadi karena doktrin pengetahuan dia hanya sebatas itu dan tidak mempelajarinya secara keseluruhan, padahal itu salah dimata umum dan agama sekalipun.

Ada juga sebagian orang yang berfikir bahwa apapun yang dilakukan adalah benar selama tujuannya baik dan positif. Korupsi untuk membantu anak yatim (katanya), mencuri untuk mencukupi kebutuhan, menggusur lahan tinggal masyarakat marjinil tanpa ganti rugi yang memadai dengan alasan untuk pembangunan rumah ibadah, dan masih banyak lagi contoh disekitar kita.

Hakekat kebenaran mungkin sering kita ucapkan, tapi susah dilaksanakan. Makhluk apa itu kebenaran juga kita kadang masih belum mengerti, yang pasti bahwa “benar” itu pasti “tidak salah”. Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan dan obyek. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyek, yakni pengetahuan yang obyektif. Karena suatu obyek memiliki banyak aspek, maka sulit untuk mencakup keseluruhan aspek (mencoba meliputi seluruh kebenaran dari obyek tersebut). kebenaran yang bersifat obyektif akan melihat apa adanya tanpa melibatkan emosi pengamatnya, berbanding terbalik dengan kebenaran yang bersifat subyektif yakni melibatkan emosi dan keyakinan pengamatnya.

Pada dasarnya manusia ingin mengetahui tentang kebenaran, karena hanya kebenaran yang memuaskan rasa ingin tahu manusia. Dengan kata lain tujuan pengetahuan adalah untuk mengetahui sesuatu yang benar. Dalam hal ini syarat mutlak untuk mengetahui benar atau salah adalah mengkaji jauh lebih dalam akan ilmu pengetahuan itu sendiri. Baik ilmu agama, sosial, pengetahuan dan teknologi serta lainya. So….., yang pasti untuk mengetahui bahwa sesuatu itu benar atau salah adalah pahami ilmunya secara keseluruhan, jangan hanya setengah-setengah……!!!

Salam,
Eko Sms

Baca Selanjutnya.....

Anak Belajar dari Kehidupannya


Alkisah pasangan muda Dul Kemit dan Maimunah sedang duduk-duduk santai diserambi rumah bersama putra bungsu mereka yang bernama Jono (7 tahun). Sesekali Dul Kemit mengajarkan satu dan dua hal kepada Jono tentang pengetahuan.

Ketika akan menyantap makanan ringan yang ada di depan meja, Dul Kemit bertanya kepada Putranya: “Puteraku yang paling ganteng sedunia yang bernama Jono, hayo coba kamu terangkan apa yang dibaca kalau kita akan makan…?” Lalu Jono menjawab: “gampang yah, kita harus membaca Bismillah…”. “Dan bacaan sesudah makan apa?” Tanya Dul Kemit lagi. Dengan sangat percaya diri Jono menjawab “yang dibaca sesudah makan adalah Astagfirullah”. Dul Kemit langsung tersentak dari duduknya mendengar jawaban puteranya tersebut. “Jawabanya salah Jono, yang bener harus baca Alhamdulillah” terang Dul Kemit. “Nggak Yah, yang benar baca Astagfirullah, buktinya selesai makan bersama keluarga di restoran sea food kemarin ayah mengucapkan kata Astagfirullah” protes Jono. Dul Kemit kaget dan buru-buru meluruskan apa yang disampaikan Jono, “Kalau yang kemarin itu ayah baca Astagfirullah karena saat selesai makan ayah lihat nota tagihan kok banyak sekali, makanya ayah kaget”. “O… gitu to saya paham” kata Jono. Hehehehehehe



Itu hanya sebatas gambaran tentang keseharian kita. Sering kali kita mengajarkan sesuatu hal kepada anak kita baik secara langsung maupun tidak langsung. Kecenderungan anak akan meniru dari apa yang didengar, dilihat maupun yang dirasakan dimana komunitas ia berada. Baik di rumah, lingkungan sekitar, disekolah, di pesantren dan dimanapun. Tentunya kita harus berhati-hati dalam bersikap.

Keluarga mempunyai peranan penting karena dipandang sebagai sumber pertama dalam proses sosialisasi, karena memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan kesehatan mental anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya, yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.

Keluarga merupakan aset yang sangat penting, individu tidak bisa hidup sendirian, tanpa ada ikatan-ikatan dengan keluarga. Begitu menurut fitrahnya, menurut budayanya, dan begitulah perintah Allah SWT. Keluarga memberikan pengaruh yang besar terhadap seluruh anggotanya sebab selalu terjadi interaksi yang paling bermakna, paling berkenan dengan nilai yang sangat mendasar dan sangat intim.

Mengingat begitu pentingnya pendidikan dimulau dari keluarga, tentunya kita harus bijak dan cerdas dalam mensikapinya. Proses pertama yang harus dilakukan adalah menjadi contoh dan tauladan yang baik bagi anak-anak kita. Jangan kemudian kita menyuruh anak untuk melakukan sholat, puasa atau apapun ajaran kebaikan lainnya kalau kita sendiri tidak melakukannya. Apa kata dunia nantinya….???

Saya masih menganggap reward dan punishment penting, dalam artian berikan reward kepada anak berupa pujian, sanjungan ataupun reward yang lainnya guna lebih meningkatkan kreativitas. Punishment disini harus memberikan dampak positif bagi perkembangan mental dan rasa tanggung jawab anak….

Berhubung sudah ngantuk, jadi sebatas itu dulu yanga keluar di kepala ini, mungkin lain kali bisa dilanjutkan kembali. Kepada teman-teman, sudulur-sedulur mohon ditambahkan bila berkenan. Lha gitu to……………….???

Salam,
Eko Sumarsono bin Sulis Raharjo bin Darno Semito Sampun Gadah Putro Sampun Gadah Wanito

Baca Selanjutnya.....